I found this one in a quaint, little café near Jl. Jaksa. It’s the story of a love affair with coffee spanning 24 years. From when a child of four would watch mother brew the dark, aromatic liquid, swirling around, forming a white froth, taking from her, in a plastic cup, sips of the watery drink. Now, 20 years on, she can no longer hand out the cup which still holds a little of the flavour of days gone by.
If you can provide a translation that will do this poem justice, please forward it on and I will post it below.

(I)
melingkar hitam, sedikit berbuih menyapih putih
beraroma kuat meski tak pekat
kau tahu aku baru lewat empat

disodorkan padaku
segelas plastik kopi encer
yang telah dititipkan jiwamu disana
setelahnya baru kau temani aku
yang saja genap mengusap mata
menyapa matahari habis kenyang melumat malam

tangan kecilku menangkup gelas plastik hangat
yang pernah kaubeli murah di pasar kota
berteman biji-biji kopi yang ditumbuk sendiri

aroma ampas menyesap pinggir lepek cangkir
yang tak pernah kau ijinkan Aku memegangnya
kau lebih suka berkata, minum kopimu
mumpung mengepul baunya dan bisa kau cium rasanya

terburu kuhirup gelasku
berpura-pura tak tahu, ada sedikit yang tumpah ke baju
sambil menunduk mencuri lirik kearahmu
disana duduk mengambil jeda
menghadap jendela tiga kali tiga
dan pintu depan yang sengaja kau buka
lalu kita akan duduk membisu
dengan gelas kopi ditangan yang dihirup pelan-pelan
berteman siluet pemandangan, depan teras berpohon jambu

penanda kita adalah pagi penunggu waktu
mencoba berteman para pelaku jalan

(II)
melingkar hitam, sedikit berbuih disapih putih
meski pekat, kini tak lagi beraroma kuat
kuharap kau tahu, aku sudah lewat dua puluh empat

kau tak lagi sodorkan
segelas plastik kopi encer yang baru diseduh
karena disini aku telah berani memegang lepek cangkirmu
bersama sejumput aroma
yang pernah bersamaku